Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Februari 2013

Cerpen-Pengamen Bindeng

“Lihat nih aku dapat uang banyak!” kata Udin beberapa saat setelah turun dari bus kota. Rupanya ia baru saja mengamen. Uang receh dan uang kertas di dalam bekas bungkus permen di genggamannya terlihat penuh. Wajah anak itu berbinar senang.

“Wah, pasti kamu nyanyinya bagus banget sehingga penumpang kasih kamu uang banyak!” kata Genta, tukang semir sepatu , teman Udin.

Cerpen-Buku Harian Firli

Firli terkadang iri pada Sofi dan Anto , teman sekelasnya. Mereka berdua punya kepandaian yang mengagumkan.

Sofi pintar sekali bermain piano, selain sekolah, ia juga belajar piano pada Sekolah Musik terkenal. Waktu Firli main ke rumahnya, ada beberapa piala berderet di ruang tamunya. Piala piala Sofi ketika mengikuti berbagai kontes piano. Kalau ada acara acara Musik di sekolah pasti Sofi tampil memainkan lagu lagu klasik dan pop yang membuahkan tepuk tangan para orangtua murid yang hadir….

Cerpen-Ary dan Arie


Bel tanda istirahat baru berbunyi beberapa menit lalu. Tapi keributan di kelas enam sudah mulai. Pertengkaran mulut antara Ary dan Arie. Seperti biasa, masalah nama mereka. Meski ditulis berbeda, tapi dibaca sama, yakni Arie.

"Pokoknya kamu harus mengganti nama panggilanmu," seru Ary lantang.

"Kenapa aku yang harus mengganti? Kenapa bukan kamu?" balik Arie.

"Karena aku lebih dulu sekolah di sini. Sedang kamu anak baru! Lagipula panggilan itu cuma pantas buat anak laki-laki," sambung Ary.

Cerpen-Badut Simon


Tidak seorang pun tahu kalau Pak Simon adalah seorang badut. Bahkan isteri dan anaknya pun tidak tahu. Orang-orang hanya mengira Pak Simon itu tidak punya pekerjaan tetap.

Seperti biasa, pagi ini Pak Simon mengayuh sepedanya menuju kota. Ia berhenti di dekat rumah mungilnya di sudut kota. Di sanalah ia menyembunyikan barang-barangnya. Pak Simon menengok ke kiri dan ke kanan, mencari saat yang tepat untuk masuk ke rumah itu. Tergesa-gesa ia membuka pintu, memasukkan sepedanya lalu menutup pintu dari dalam. Pak Simon lalu melangkah ke depan lemari kayu tua yang cerminnya telah retak. Di depan cermin ia berdiri.

"Akulah Simon! Akulah badut kota! Tetapi aku tidak ingin orang-orang tahu kalau Simon adalah seorang badut," kata hati Pak Simon sambil tersenyum. Telah lima tahun ia menyimpan rahasia itu.

Cerpen-Melacak Jejak

Nigar kaget melihat kaver majalah Boo terbarunya robek. Terakhir kali ia melihat Igun yang membacanya. Segera ia menemui adiknya itu.

"Igun, kenapa kamu robek majalah baru ini?" Nigar setengah berteriak.

"Tidak sengaja. Tapi isinya masih bisa dibaca kan, Kak!" kilah Igun takut.

"Pokoknya kamu harus ganti. Kalau tidak, mobil-mobilan ambulan kamu itu akan kubuang ke sungai," ancam Nigar sewot. "Cepat, sekarang juga!"

Cerpen-Kisah Tulo dan Tulio

Pada suatu ketika hiduplah dua bersaudara. Tulo si kakak dan Tulio si adik. Mereka sangat baik dan ramah. Namun ada keanehan pada tubuh mereka. Tulo memiliki kaki yang panjang setinggi rumah, namun tangannya pendek sekali. Sementara Tulio memiliki kaki yang amat pendek namun tangannya amat panjang sehingga bisa memeluk sebuah rumah. Anak-anak menyukai mereka. Namun orang dewasa menganggap mereka aneh. Tulo dan Tulio senang menghibur anak-anak. Mereka bercerita, melucu, bernyanyi...

Suatu hari Tulio berkata kepada Tulo, "Kak, aku mendengar cerita tentang kolam ajaib. Konon kolam itu bisa membuat tubuh kita normal. Aku tidak suka dianggap aneh dan ditertawakan. Ayo kita cari kolam ajaib itu."

Cerpen-Asyiknya Berbagi


"Kak Ita, boleh 'nggak pinjam pulpennya, satu. Punyaku tintanya habis," Ully merayu kakaknya. Ita menggeleng.

"Aku juga mau pakai."

"Kak Ita, kan, sedang menggambar."

"Memang. Tapi besok aku ada ulangan. Kalau tintanya habis saat sedang ulangan, bagaimana?"

"Yaa... Kak Ita. Pinjam sebentar, soalnya tanggung, aku sedang menyalin. Nanti malam pasti aku ganti dengan bolpen baru," Ully merayu lagi.

"Kalau kamu mau beli, ya beli sekarang saja. Kenapa harus nunggu sampai nanti malam."

Cerpen-Pangeran Bertopeng

Di sebuah desa, hiduplah tiga pemuda kakak beradik. Rommy, Edward dan Albert. Edward dan Albert sangat tampan dan gagah. Sangat berbeda dengan kakak sulung mereka yang berwajah seram. Kedua pemuda ini sering mengejek kakak mereka.

Suatu hari, Rommy tidak tahan lagi mendengar ejekan-ejekan itu. Ia mendatangi ibunya dan mencurahkan kesedihannya,

"Bunda, mengapa wajahku tak setampan kedua adikku? Aku tak tahan melihat orang-orang yang ketakutan saat melihat wajahku..."

"Anakku, Bunda juga memikirkan keadaanmu! Bunda punya peninggalan topeng sakti dari kakekmu… Jika kau memakainya, kau akan tampak gagah dan tampak. Bahkan lebih dari kedua adikmu. Orang-orang tidak akan takut dan mengejekmu lagi. Asal, kau jangan menjadi sombong," ujar si ibu.

Cerpen-Aini dan Burung Kecil

Aini berulang tahun. Ia gadis kecil yang manis. Hari ulang tahunnya dirayakan dengan pesta kecil yang meriah.

Halaman belakang rumahnya dihiasi banyak balon, pita, dan bunga-bunga. Hiasan itu pemberian dari Bibi Anya, adik ibunya.

Taman kecil di belakang rumah itu jadi indah sekali.

Pesta ulang tahun itu diisi doa. Mereka berdoa agar Aini selalu diberi kebahagiaan. Lalu nyanyian selamat ulang tahun yang ramai. Barulah acara makan yang menyenangkan. Ulang tahun yang melelahkan, tapi menyenangkan.

Cerpen-Nenek Jingga

Nenek Jingga adalah tetangga baru yang menempati rumah di depan rumah Asti. Wajahnya sudah sangat keriput, dengan mata yang menyeramkan seperti nenek sihir di film film horor.
Asti sering bergidik melihatnya. Setiap kali bertemu di depan rumah Asti langsung berlari kencang menghindar.

“Aku takut Bun!” keluhnya pada Bunda yang menegur sikapnya, “Nenek itu seram sekali wajahnya..”

“Bukan seram,Asti..itu karena nenek sudah tua jadi wajahnya berkerut!”kata Bunda

Cerpen-Rahasia Sekeping Uang Logam

Ini untuk pertama kalinya aku berulang tahun di negeri orang. Tidak ada teman, saudara, atau tetangga sebelah rumah yang bisa kuajak merayakannya. Ah, tapi tak apa-apa. Aku masih punya Mama, Papa, dan ...

“Alia!” panggil Usagi, teman sebangkuku yang selalu menemaniku selama aku tinggal di jepang, “Hari ini kamu ulang tahun, kan? Selamat, ya! Semoga panjang umur,” Usagi mengulurkan tangan.

“Terima kasih,” aku membalas uluran tangannya.

Usagi merapatkan mantel putihnya, begitu juga aku. Musim salju mulai turun. Semua murid memakai mantel tebal. Aku dan Usagi menuju halte bus.

“Kok, kamu sepertinya tidak bahagia?” tanya Usagi lagi.

Senin, 25 Februari 2013

Puisi Tentang Lingkungan- Teriakan Sang Alam


Teriakan Sang Alam(Fatin Alifah)


Terik matahari menembus kulit
Dikala melangkah mencari perteduhan
Terdiam aku terdiam
Apa maksud semua ini?

Hey!
Sadarkah kalian
Bumi tenggelam terbakar
Semua bagai butiran debu

Bumi ini menangis
Pohon dan tanaman geram
Seraya berteriak
“Selamatkan kami!”